Sabtu, 08 Desember 2012

Pencemaran Lingkungan Laut


pencemaran adalah proses masuknya zat-zat atau energi ke dalam lingkungan oleh aktifitas manusia secara langsung yang mengakibatkan terjadinya pengaruh yang merugikan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya akan membahayakan manusia, merusak lingkungan hayati (sumberdaya hayati) dan ekosistem serta mengurangi atau menghalangi kenyamanan dan penggunaan lain yang semestinya dari suatu sistem lingkungan (Romimohtarto, 1991)
GESAMP (1978), mendefenisikan pencemaran merupakan Pencemaran adalah proses masuknya zat-zat atau energi ke dalam lingkungan oleh aktifitas manusia secara langsung yang mengakibatkan terjadinya pengaruh yang merugikan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya akan membahayakan manusia, merusak lingkungan hayati (sumberdaya hayati) dan ekosistem serta mengurangi atau menghalangi kenyamanan dan penggunaan lain yang semestinya dari suatu sistem lingkungan (Romimohtarto, 1991)masuknya atau dimasukkannya zat atau energi oleh manusia baik secara langsung maupun tidak langsung ke dalam lingkungan laut yang menyebabkan efek merugikan karena merusak sumberdaya hayati, membahayakan kesehatan manusia, menghalangi aktifitas di laut termasuk perikanan, menurunkan mutu air laut yang digunakan dan mengurangi kenyamanan di laut. 
            Kegiatan di laut yang merupakan sumber pencemaran, yaitu :
1.      Pencemaran yang bersumber dari kegiatan pelayaran
Pencemaran ini diakibatkan oleh kegiatan pengoperasian normal kapal, adanya kebocoran bahan bakar minyak dari instalasi permesinan, pipa-pipa, tangki-tangki, tumpahan lain, atau adanya bekas cucian, yang akhirnya tercampur dalam air,  sehingga  menjadi  limbah  berminyak.  Pencemaran akibat kecelakaan kapal yang terjadi karena adanya tumpahan-tumpahan muatan minyak, muatan bahan cair beracun sebagai akibat terjadinya kecelakaan kapal seperti tubrukan, kandas, kebakaran, dan sebagainya.
2.      Pencemaran laut yang bersumber dari kegiatan penambangan minyak lepas pantai.
Pencemaran dari pengeboran minyak lepas pantai ini disebabkan oleh buangan dan bocoran lumpur bor bekas, minyak endapan serta bocoran pada saat eksploitasi dan pada saat pengoperasian pengangkutan dari anjungan ke kapal tanker.
3.      Pencemaran yang bersumber dari kegiatan dumping di laut.
Aturan khusus dumping di laut belum ada sehingga masih banyak kegiatan dumping di laut dan pantai secara liar.  Semakin banyaknya kegiatan industri akan mengakibatkan makin banyak limbah industri yang dibuang di laut (Rahim, 1998).
      Sebetulnya cemaran minyak yang ada di perairan itu dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain : kecelakaan dan tumpahan selama proses produksi, transportasi dan penggunaan, presipitasi dari atmosfer, limbah domestik dan industri serta karena rembesan alamiah dari dasar laut (Saparinto, 2002).
            Sampai saat ini, hanya dampak berupa pencemaran minyak yang sudah dibuat implikasinya terhadap tingkat kerentanan ekosistem pesisir.  Sloan (1993) telah menyusun tingkat kerentanan berbagai ekosistem pesisir utama terhadap tumpahan minyak, seperti yang disajikan pada :

Tabel 1.  Tingkat Kerentanan (TK) dari Setiap Habitat (Sloan, 1993)

Tingkat Kerentanan
Keterangan
Tipe Habitat
5
Sangat Tinggi
o   Mangrove
o   Rawa Payau
o   Daerah Pasang Surut berbatu terlindung
o   Penggunaan khusus (misalnya untuk jenis langka)
4
Tinggi
o   Terumbu Karang
o   Padang Lamun
3
Sedang
o   Perairan semi terbuka (teluk, dermaga)
2
Kurang
o   Pantai berpasir
o   Pantai berbatu
1
Rendah
o   Daerah Pasang Surut berbatu terbuka
o   Hutan Kelp
o   Perairan terbuka (lepas Pantai)
o   Subtidal berbatu (karang keras dasar/berbatu)
o   Subtidal berbatu limbah lunak

Tinjauan Parameter Fisika Oseanografi
a.      Pasang Surut
Pasang surut pada umumnya adalah gerakan naik turunnya dari permukaan air laut disebabkan oleh gaya tarik menarik benda-benda angkasa terutama bulan dan matahari terhadap permukaan bumi.  Tampilan pasang surut yang terjadi di pantai sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lokal seperti dasar laut, lebar selat, bentuk teluk dan sebagainya (Nontji, 1993).
Pasang surut merupakan  salah satu pembangkit terjadinya arus sehingga dapat menyebabkan sirkulasi air.  Menurut Triatmojo (1999), pasang surut dibedakan atas empat tipe yaitu  :
§  Pasang harian ganda (semi diurnal tide).  Dalam satu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi secara berurutan teratur.  Periode pasang surut rata-rata adalah 24 jam 50 menit.
§  Pasang surut harian tunggal (diurnal tide).  Dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan satu kali surut.  Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit.
§  Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semidiurnal).  Dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut tetapi tinggi dan periodenya berbeda.
§  Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing diurnal).  Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan satu kali air surut, tapi kadang-kadang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan perode yang berbeda.
Pasang surut di perairan nusantara pada umumnya bersifat campuran.  Adapun sifat campuran ini disebabkan terutama oleh pengaruh interverensi gelombang-gelombang pasang surut yang datang dari samudera Hindia dan samudera Pasifik yang kedua-duanya bersifat campuran, terutama harian ganda.  Kecuali itu juga interverensi dari gelombang pasang surut dari laut Cina yang bersifat Harian Tunggal.  Hasil pasang surut campuran ditentukan oleh perbandingan antara tunggang air kelompok harian tunggal dan kelompok harian ganda, dan hanya dalam keadaan luar biasa salah satu dari kelompok itu berkerja secara tersendiri (Uktolseya, 1994).
Pengaruh minyak pada organisme di daerah pantai akan berbahaya apabila tumpahan minyak tersebut terhembus oleh angin dan bergerak akibat pasang surut air laut hingga terperangkap pada sedimen-sedimen di daerah pantai. Kondisi ini akan menjadikan terhambatnya proses rekolonisasi biota yang tumbuh di daerah tersebut. Ada kecenderungan tumbuhan darat (terestrial), terutama mangrove lebih peka terhadap pengaruh racun minyak dari pada algae.  Oleh  karena pengaruh pasang surut, batang dan akar mangrove terkena kontak langsung, menjadikan daun mangrove akan menguning dan berguguran dan mati.  Minyak diesel pada konsentrasi 100 ppm menyebabkan terjadinya gugur daun, kemudian akan pulih kembali. Namun pada konsentrasi 1000 - 10000 ppm semua benih mati dalam waktu dua minggu (Saparinto, 2002).
b.      Arus permukaan
Faktor utama timbulnya arus di laut adalah radiasi matahari.  Pemanasan yang berbeda-beda di bagian bumi, udara di atas bumi mengalami tekanan yang berbeda-beda yang mengakibatkan angin berhembus.  Angin  yang berhembus di atas laut, menyebabkan massa air laut di bagian permukaan ikut terseret, maka timbullah arus laut.  Pemanasan air yang tidak merata juga menyebabkan suhu perairan di muka bumi tidak sama, dan dapat mengakibatkan perbedaan densitas.  Proses ini pula dapat menyebabkan terjadinya arus laut (Birowo, 1994)
Sirkulasi arus di permukaan banyak dipengaruhi oleh angin musim, sehingga pola sirkulasi sesuai dengan pola angin.  Pada musim barat arus permukaan bergerak dengan arah utama dari barat ke timur, dan pada musim timur terjadi sebaliknya (Uktolseya, 1994)
Hal senadapun dikemukakan oleh Rahim (1998), bahwa arus merupakan penyebab timbulnya sirkulasi air baik dalam bentuk penyebaran (diffusion) maupun arus vertikal, sehingga terjadi proses percampuran partikel-partikel dalam air.  Dengan adanya arus laut serta proses difusi, maka fragmen-fragmen minyak dapat menyebar secara horisontal seiring dengan perjalanan waktu.
Proses masuknya bahan pencemar ke dalam perairan laut dan kemudian dialirkan melalui tingkat-tingkat tropik yang terdapat pada lingkungan tersebut dipicu oleh tiga faktor yaitu :
1.    Disebarkan melalui adukan/turbulensi, dan arus laut.
2.   Dipekatkan melalui proses biologi.
       Diserap oleh ikan,  plankton nabati atau ganggang, dan melalui proses fisik dan kimiawi dengan cara absorbsi, pengendapan dan pertukaran ion. Bahan pencemar  ini akhirnya akan mengendap di dasar laut,
3.    Terbawa langsung oleh arus dan biota laut (ikan).
       Sebagian bahan pencemar yang masuk ke dalam ekosistem laut dapat diencerkan dan disebarkan ke seluruh wilayah laut melalui adukan turbulensi dan arus laut. Untuk wilayah-wilayah laut yang luas dan terbuka dengan pola arus dan turbulensi yang aktif, bahan-bahan pencemar akan terurai dan terbuang ke perairan laut yang lebih luas sehingga dapat meminimalkan konsentrasi akumulasinya dalam suatu badan perairan. Akan tetapi pada wilayah-wilayah laut yang sempit dan tertutup, bahan pencemar akan mudah sekali terakumulasi di dalam suatu badan perairan.
Bahan pencemar tersebut sebagian lagi tersebut akan terbawa oleh arus laut atau biota yang sementara melakukan migrasi/ruaya ke wilayah laut lainnya, dan akan lebih menguntungkan apabila terbawa ke perairan laut terbuka. Sedangkan sebagian lagi yang tidak dicencerkan dan disebarkan serta terbawa ke wilayah-wilayah laut yang luas dan terbuka, akan dipekatkan melalui proses biologi, fisik dan kimiawi, dimana dalam proses biologi, bahan pencemar biasanya diserap oleh organisme laut seperti ikan, fitoplankton maupun tumbuhan laut kemudian diserap lagi oleh plankton nabati kemudian akan berpindah ke tingkat-tingkat tropik selanjutnya seperti avertebrata dan zooplankton  dan kemudian ke ikan dan mamalia.  Sedangkan dalam proses fisik dan kimiawi, bahan pencemar akan diabsorbsi, diendapkan dan melakukan proses pertukaran ion. (Siahainenia, 2001)                                               
Proses yang dialami minyak cemaran ini adalah emulsifikasi, evaporasi, dan fotooksida.  Proses ini tidak terlepas dari keadaan laut itu sendiri terutama gelombang dan arus yang dapat mencampur maupun membawa minyak bumi tersebar di permukaan laut.  Bentuk laut yang terbuka tentu berbeda dengan laut yang tertutup.  Pada laut yang terbuka arus yang bergerak lebih besar dan tempat pergerakannya lebih luas (Rahim, 1998). 
c.       Gelombang
Gelombang laut timbul sebagai akibat gangguan dari luar terhadap suatu perairan (angin, gerakan kapal, gempa bumi).  Dari tempat gangguan, gelombang merambat secara mendatar di permukaan air ke segala arah.  Bentuk gelombang sebenarnya sangat kompleks, namun dalam usaha mempelajarinya banyak diadakan anggapan-anggapan.  Gelombang laut sering dianggap sebagai penjumlahan/super posisi beberapa gelombang sederhana. 
Gelombang yang datang mendekati pantai/daerah dangkal, kecepatan dan panjang gelombang mengecil, sedang elevasi dan keterjalannya bertambah.  Pada daerah dimana tinggi gelombang sama dengan kedalaman perairan, gelombang pecah/collaps.  Keterjalan gelombang, kemiringan dasar, dan angin adalah faktor-faktor penting dalam mempelajari sifat pecahnya gelombang (Birowo, 1994)
Gelombang atau ombak adalah pergerakan dari titik-titik air (kebanyakan naik turun), adalah fenomena yang terbanyak dijumpai di permukaan laut.  Terdapat banyak sekali macam gelombang dengan periode yang bermacam-macam pula.  “Gelombang angin” yang disebabkan oleh angin, yang merupakan gelombang gravitasi permukaan (surface gravity waves) dengan periode antara 1 – 30 detik (Uktolseya, 1994)
Triatmodjo (1999), mengatakan bahwa gelombang laut merupakan salah satu yang paling penting dalam mempelajari dinamika perairan, dan yang paling berpengaruh pada pembentukan gelombang laut adalah angin dan pasang surut. Gelombang di laut dapat dibedakan menjadi beberapa macam tergantung pada gaya pembangkitnya.  Gelombang tersebut adalah gelombang angin yang dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut, gelombang pasang surut adalah gelombang yang dibangkitkan oleh gaya tarik benda-benda langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi,  dan gelombang tsunami yang terjadi karena letusan gunung berapi atau gempa di laut, serta gelombang lain yang dibangkitkan oleh kapal yang bergerak dan sebagainya. 
Energi angin serta ombak laut menyebabkan tumpahan-tumpahan minyak dapat pecah menjadi fragmen-fragmen kecil yang kemudian menyebar maupun teradveksi dari tempat tumpahan. Apabila perairan pantai tercemar, akan mempunyai pengaruh pada kehidupan yang ada disekitarnya, bahkan karena terkena arus, angin atau gulungan ombak akan sampai di perairan estuaria (estuarine areas), terumbu karang (coral reef), padang lamun (sea gress) atau hutan bakau (mangrove).
Pengaruh spesifik dari peristiwa tumpahan minyak terhadap lingkungan perairan laut dan pantai tergantung pada jumlah minyak yang tumpah, lokasi kejadian dan waktu kejadian. Buangan dan tumpahan minyak bumi akibat kegiatan penambangan dan pengangkutannya dapat menimbulkan pencemaran laut yang lebih luas karena terbawa arus dan gelombang laut. Pengaruh buangan/tumpahan minyak terhadap ekosistem perairan laut adalah dapat menurunkan kualitas air laut secara fisik, kimia, dan biologis (Saparinto, 2002).


Cemaran Minyak

a.  Minyak Bumi (Hidrokarbon Petroleum)
            Minyak bumi  merupakan campuran komponen-komponen bahan organik alami yang sangat kompleks yang dibentuk dari hasil perombakan-perombakan hewan dan tumbuhan setelah kurun waktu geologis.  Bahan-bahan organik ini tersimpan dalam bentuk fosil di tempat yang tidak beroksigen. 
            Minyak bumi (petroleum) terdapat dalam bentuk gas (gas alam), cair (minyak mentah), padat (aspal, tar, bitumen) atau sebagai bentuk dari kombinasi unsur tersebut.  Minyak bumi yang berbentuk cair biasanya bervariasi mulai dari yang tidak berwarna sampai berwarna hitam seperti tar. Kebanyakan minyak mentah (crude oils) berwarna gelap, coklat kekuningan, merah kehitaman atau kehijauan apabila terefleksi cahaya (Supriharyono, 2000).
            Minyak bumi mengandung beribu-ribu komponen kimia yang berbeda dan lebih dari separuh (50 – 98 %) berupa hidrokarbon. Komponen utama hidrokarbon penyusun minyak bumi ada tiga yaitu paraffinic hydrocarbons (alkanes), naphthenic hydrocarbons (alicylic), dan aromatik. Alkanes relatif tidak beracun dan tidak bisa diuraikan secara biologis oleh kebanyakan mikroba. Semakin panjang rantai karbonnya semakin sulit untuk diuraikan, begitu pula dengan alicyclic. Sedang benzen salah satu komponen dari aromatic lebih beracun dan sangat mudah berubah menjadi gas dan menguap.  Selain hidrokarbon, minyak bumi juga mengandung komponen organik lainnya, yaitu semacam nitrogen, belerang, oksigen dan logam atau semacam logam. Komponen-komponen tersebut dapat diuraikan secara biologis oleh mikroorganisme (Saparinto, 2002).
Jenis minyak juga perlu diperhatikan, sebab minyak mengandung beribu-ribu komponen kimia yang berbeda, yang daya larutnya dan daya racunnya juga berbeda. Sebagai contoh, komponen aromatik cenderung lebih mudah larut dan mudah menyebar dibanding paraffinic dan naphthenic. Namun, komponen aromatik cenderung lebih beracun dibanding komponen lainnya (Vin, 2002).
Menurut Wardhana (2001), Hidrokarbon atau sering disingkat HC, penyusun utamanya adalah atom karbon dan atom hidrogen yang dapat terikat (tersusun) secara ikatan lurus (ikatan rantai) atau terikat secara ikatan cincin (ikatan tertutup).  Jumlah atom karbon (atom C) akan menentukan bentuknya, apakah akan berbentuk gas, cairan, ataukah padatan.  Pada suhu kamar umumnya hidrokarbon suku rendah (jumlah atom C sedikit) akan berbentuk gas, hidrokarbon suku menengah (jumlah atom C sedang) akan berbentuk cairan dan hidrokarbon suku tinggi (jumlah atom C banyak) akan berbentuk padatan.  Selain dari pembagian tersebut, hidrokarbon dibagi pula berdasarkan bentuk ikatannya misalnya senyawa alkana dengan rumus molekul CnH2n+2, senyawa alkena dengan rumus molekul CnH2n, dan  alkuna dengan rumus molekul CnH2n-2. Pembagian hidrokarbon berdasarkan jumlah atom C yang dikandungnya yakni sebagai berikut :
ª        HC suku rendah (jumlah atom C 1 – 4), berbentuk gas :
            C = 1 = Metana           CH4
            C = 2 = Etana              C2H6
                C = 3 = Propana          C3H8
            C = 4 = Butana           C4H10
ª        HC suku sedang (jumlah atom C antara 5 – 15), berbentuk gas :
            C = 5   = Pentana                    C5H12
            C = 6   = Heksana                   C6H14
                C = 7   = Heptana                   C7H16
            C = 8   = Oktana                     C8H18
            C = 9   = Nonona                    C9H20
            C = 10 = Dekana                     C10H22
                C = 13 = Propa dekana           C13H28
            C = 15 = Penta dekana           C15H32

ª        HC suku tinggi (jumlah atom C lebih dari 15), berbentuk padatan :
           
            C = 16 = Heksa dekana          C16H34
            C = 18 = Okta dekana                        C18H38
                C = 20 = Eta dekana               C20H42
            C = 30 = Propa kontana          C30H62

            Lain lagi dengan lumpur minyak (sludge) yang merupakan suatu produk sampingan yang dihasilkan dari kegiatan eksploitasi minyak bumi. Lumpur minyak ini dihasilkan mulai saat pengeboran di sumur minyak di lepas pantai hingga di kilang-kilang minyak. Proses terjadinya menyerupai air ledeng yang meninggalkan lumpur tipis di dasar bak atau ember. Lumpur minyak ini mengandung berbagai logam berat yang berbahaya. Jika menumpuk di tanah, bisa merembes dan mencemari sumber air tanah.  Sludge dianggap sebagai limbah yang dibuang percuma karena kandungan padatan serta kandungan airnya lebih dari 5 %. Kalaupun diolah, kurang bernilai ekonomis, bahkan kandungan airnya yang terlampau tinggi bisa merusak kilang (Jaringan Advokasi Tambang, 2004).
b.  Sumber hidrokarbon dalam lingkungan laut
            Sumber  pencemaran perairan pesisir biasa terdiri dari limbah industri, limbah cair pemukiman (sewage), limbah cair perkotaan (urban stormwater), pelayaran (shipping), pertanian, dan perikanan budidaya.  Bahan pencemar utama yang terkandung dalam buangan limbah tersebut berupa sedimen, unsur hara (nutriens), logam beracun (toxic metals), pestisida, organisme eksotik, organisme pathogen, sampah, dan oxygen depleting substances (bahan-bahan yang menyebabkan oksigen yang terlarut dalam air laut berkurang).
            Bahan pencemar yang berasal dari berbagai kegiatan industri, pertanian, rumah tangga di daratan akhirnya dapat menimbulkan dampak negatif   bukan saja pada perairan sungai tetapi juga perairan pesisir dan lautan. Dampak yang terjadi kerusakan ekosistem bakau, terumbu karang, kehidupan dari jenis-jenis biota (ikan, kerang, keong), terjadi abrasi, hilangnya benih banding dan udang.  Beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap bahan-bahan yang akan dibuang ke perairan, termasuk perairan wilayah pesisir yaitu :
1.      Macam, sifat, banyaknya dan kontinuitas bahan buangan;
2.      Kemampuan daya angkut dan pengencer perairan yang berkaitan dengan kondisi oseanografi setempat;
3.      Kemungkinan interaksi antara sifat-sifat kimia dan biologi bahan buangan dengan lingkungan perairan.
4.   Pengaruh bahan buangan terhadap kehidupan dan rantai makanan;
5.      Proses degradasi dan perubahan biogeokimia;
6.      Prognose terhadap jumlah dan macam tambahan bahan pencemar di hari depan;
7.      Faktor-faktor lain yang khas.
            Perlu juga diperhatikan kemungkinan terjadinya proses saling menunjang atau proses saling menetralkan antara dampak bahan pencemar yang telah ada dengan bahan pencemar yang masuk kemudian.  Oleh karena itu penting diketahui sifat fisik kimia bahan pencemar maupun perairan, dan kemungkinan terjadinya peningkatan pencemaran serta perusakan lingkungan. (Pagoray, 2003).
Secara umum sumber hidrokarbon dapat dibagi dalam dua bagian besar yaitu hidrokarbon alamiah dan hidrokarbon antropogenik.
Ø  Biogenik
Hidrokarbon Biogenik adalah hidrokarbon yang dihasilkan dari aktivitas organisme laut dan darat.  Hidrokarbon ini dapat dilepaskan selama metabolisme atau jika organisme tersebut mati.  Disamping itu, organisme tersebut menggunakan hidrokarbon sebagai makanan dan digunakan untuk mengubah senyawa-senyawa prekursor yang berhubungan dengan makanannya.
Ø  Pirolitik
Hidrokarbon hasil pirolitik adalah hidrokarbon yang berasal dari pembakaran hutan, yang dibawa oleh air hujan atau melalui saluran-saluran pembuangan masuk  ke dalam lingkungan laut.  Hidrokarbon ini juga bisa berasal dari pembakaran kendaraan bermotor yang menggunakan lingkungan laut sebagai sarana transportasi.
Ø  Diagenetik
Hidrokarbon yang dihasilkan akibat adanya proses kimia yang berlansung dalam waktu pendek.
Ø  Geokimia
Hidrokarbon yang dihasilkan dari akibat proses geokimia seperti penyusunan minyak dari tanah bawah laut dan pantai berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama (jutaan tahun).
Ø  Antropogenik
Hidrokarbon ini berasal dari sumber alam tetapi kebanyakan berasal dari minyak bumi (petroleum hidrokarbon) dan hasil produksinya.  Hidrokarbon ini terutama berasal dari petroleum yang dibuang dari aktivitas manusia dan merupakan sumber pencemaran yang besar di laut (Noor dan Mille, 1987).
            Sedangkan menurut Freedman (1989) bahwa Unsur Hidrokarbon secara kuantitatif sangat penting dari petroleum.  Hidrokarbon dapat diklasifikasikan dalam tiga bagian besar, yaitu :
Æ  Hidrokarbon Aliphatic, jika ada hanya satu jenis antara semua struktur atom karbon, molekul tersebut akan menjadi sama.  Senyawa aliphatic diketahui sama dengan parafin atau alkana, dan mereka adalah zat kimia yang lebih stabil. Seperti diilustrasikan dengan mengikuti seri dari dua karbon aliphatic :  Ethana (H3C-CH3), ethilen (H2C=CH2), dan acetilen (H3CCH3). 
Æ  Hidrokarbon Alicyclic, hampir sama dengan semua atom karbon dalam satu rangkaian struktur.
Æ  Hidrokarbon Aromatik adalah hidrokarbon yang terdiri dari enam rangkaian karbon dalam struktur molekulnya, semisal C6H6 atau biasa dikenal dengan benzena.
Sumber bahan buangan minyak di lingkungan laut dan presentase input pertahun dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.  Presentase Input Bahan Buangan Minyak Pertahun (Romimohtarto, 1991)

Sumber
Metrik ton/tahun
Prosentase input/tahun (%)
Transportasi
Buangan Industri
Atmosfir
Alam
Produksi Laut Lepas
1.47
1.18
0.30
0.24
0.05
45.30
36.30
9.20
7.70
1.50
Total
3.24
100
           
            Tabel 2 menunjukkan sumber-sumber yang telah diestimasi atau diperkirakan dan besarnya input minyak ke lingkungan laut.  Kesemuanya itu berangkat dari asumsi bahwa semua buangan minyak pada berbagai titik di dunia berakhir di samudera (Romimohtarto, 1991).
            Secara teoritis, tumpahan minyak memang tidak selamanya berasal dari kecelakaan kapal seperti karam, tabrakan, atau tenggelam. Bisa juga tumpahan minyak yang mencemari laut ini karena kesengajaan, misalnya air ballas atau air bercampur minyak dari sisa pencucian kapal tanker. Bisa juga limbah minyak ini berasal dari tar ball (kerak minyak mentah) yang dibuang oleh kapal yang kebetulan sedang melintas. Tetapi, tidak menutup kemungkinan pula berasal dari pertambangan minyak di lepas pantai (Jaringan Advokasi Tambang, 2004).
c.  Proses Transformasi Minyak Bumi dalam lingkungan Laut.
            Secara garis besar gejala kerusakan lingkungan yang mengancam kelestarian sumberdaya pesisir dan lautan di Indonesia yaitu : pencemaran, degradasi fisik habitat, over eksploitasi sumberdaya alam, abrasi pantai, konservasi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan lainnya dan bencana alam (Pagoray, 2003)
            Minyak bumi yang masuk ke lingkungan laut dari berbagai sumber mengalami transformasi dalam laut dengan melibatkan proses fisika, kimia, dan biologi seperti berikut ini :
1.      Penyebaran (Spreading)
Minyak bumi dan produk destilatnya yang terbuang ke laut menyebar dengan cepat yang dipengaruhi oleah angin, gelombang dan arus terutama sifat-sifat fisika dan kimia.  Dari penyebaran minyak ini akan terbentuk lapisan minyak tipis yang kemudian terpecahkan oleh gelombang dan kemudian lapisan minyak menghilang dari permukaan laut (terdispersi) karena mengalami proses-proses turbulensi.  Penyebaran lapisan tipis hingga beberapa milimeter tergantung pada viskositas minyak yang dominan.  Kedalaman lapisan atau dalam bentuk gumpalan-gumpalan minyak yang tenggelam dari permukaan laut sangat tergantung pada energi pengadukan (mixing).  Ketika energi pengadukan mulai berkurang, maka terdapat kemungkinan lapisan atau gumpalan-gumpalan tersebut muncul kembali ke permukaan laut.
2.      Penguapan (evaporasi)
Proses penguapan merupakan proses fisika dimana proses ini tergantung pada titik didih dan berat molekul minyak bumi yang masuk ke laut, hampir seluruh hidrokarbon dibawah C15 (titik didih < 250 oC) akan teruapkan dari permukaan laut.  Hidrokarbon rentang C15 – C25 menunjukkan volatilitas terbatas dan banyak yang tinggal dalam minyak.  Sedangkan hidrokarbon diatas C25 sangat sedikit yang hilang dari proses ini.  Jika penguapan yang terjadi sangat kecil, molekul atau partikel-partikel yang tidak menguap akan membentuk agregat bergabung menjadi besar dan kemudian turun ke sedimen. 
3.      Pelarutan
Pelarutan erat hubungannya dengan komposisi, struktur, dan berat molekul senyawa.  Kecepatan dari proses ini ditentukan oleh angin, keadaan laut dan molekul minyak bumi (komposisi kimia, spesifik gravity, dan viskositas).  Akhir dari proses pelarutan menghasilkan minyak yang terlarut dalam badan air.
4.      Emulsifikasi
Emulsifikasi adalah proses dimana minyak tersuspensi ke dalam air yang disebabkan oleh banyaknya komponen minyak bumi yang tidak dapat larut dalam air.  Gerakan penyebaran minyak bumi mempengaruhi formasi pembentukan emulsi.  Bentuk emulsinya tergantung pada perbandingan volume air atau minyak dan proses fisika, seperti guncangan dan lain-lain.  Emulsi minyak dalam air disebarkan secara perlahan oleh aliran dan perputaran pada permukaan, khususnya pada laut berombak.  Akhir dari bentuk emulsi ini, semakin  banyak air yang bergabung dengan material padat lainnya dan kemudian bersama-sama turun ke sedimen atau mengendap (sinking).  Hal ini disebabkan oleh meningkatnya densitas minyak baik karena proses penguapan (evaporasi) ataupun proses dimana berat molekul terendah masuk ke air secara vertikal dan kemudian menghilang ke dalam kolom air (dissolusi) yang diatur oleh banyak parameter termasuk viskositas minyak dan kondisi cuaca di laut.
5.      Degradasi Mikroba
Degradasi merupakan proses alami yang sangat penting bagi penguraian minyak bumi oleh mikroorganisme setelah mengalami proses fisika dan kimia.  Mikroorganisme seacar aktif berada di lapisan batas antara minyak dan air.  Luas permukaan minyak di atas air kecil, sehingga proses degradasi berlangsung lama. Pada proses ini minyak terdegradasi tidak sempurna atau tidak seluruhnya terdegradasi.  Mikroorganisme hanya mendegradasi beberapa jenis senyawa hidrokarbon dalam minyak.  Kecepatan fotooksida pada minyak terjadi di alam, terutama minyak bumi yang mengandung N, S, dan O.  Oksidasi mikrobial dari minyak biasanya dilakukan oleh bakteri acinomycetes, fungi dan ragi.  Proses tersebut berjalan baik secara aerobik maupun anaerobik. 
6.      Sedimentasi
Minyak bumi yang akan mengalami sedimentasi memerlukan kerapatan yang cukup untuk turun ke sedimen.  Selain itu adanya adsorbsi minyak bumi oleh adanya partikuler perairan juga akan mempercepat sedimentasi.  Konstituen minyak bumi yang tahan terhadap proses degradasi akan bergabung membentuk suatu gumpalan-gumpalan.  Adanya gerakan air laut, gumpalan-gumpalan minyak akan turun ke dasar laut.  Kemungkinan lain dapat juga terbawa ke pantai sehingga di sepanjang pantai akan ditemukan gumpalan-gumpalan minyak (tarball).  Proses sedimentasi sangat tergantung pada kondisi lingkungan perairannya, seperti salinitas, suhu, turbulensi, kekeruhan, kandungan oksigen, dan kandungan bakteri yang dapat mendegradasi gumpalan minyak.  Selanjutnya minyak dapat mengapung kembali dari sedimen jika massa minyak telah berkurang sampai pada kondisi tertentu (resurfacing) (Wahjudi dan Bilal, 1976).
d.      Dampak Pencemaran Minyak di laut
            Minyak tidak dapat larut dalam air, melainkan akan mengapung diatas permukaan air.  Bahan buangan cairan berminyak yang dibuang ke air akan mengapung menutupi permukaan air.  Kalau bahan buangan cairan mengandung senyawa yang volatil maka akan terjadi penguapan dan luasan permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan menyusut.  Penyusutan luasan permukaan tergantung pada waktu dan jenis minyaknya.  Lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat juga terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, namun memerlukan waktu yang cukup lama (Wardhana, 2001)
Tumpahan minyak bumi pada perairan laut akan membentuk lapisan filem pada permukaan laut, emulsi atau mengendap dan diabsorbsi oleh sedimen-sedimen yang berada di dasar perairan laut. Minyak yang membentuk lapisan filem pada permukaan laut akan menyebabkan terganggunya proses fotosintesa dan respirasi organisme laut. Sementara minyak yang teremulsi dalam air akan mempengaruhi epitelial insang ikan sehingga mengganggu proses respirasi. Sedangkan minyak yang terabsorbsi oleh sedimen-sedimen di dasar perairan akan menutupi lapisan atas sedimen tersebut sehingga akan mematikan organisme penghuni dasar laut dan juga meracuni daerah-daerah pemijahan.
Akibat terganggunya proses fotosintesa maka populasi plankton akan menurun. Penurunan populasi plankton akan diikuti oleh penurunan populasi organisme pemakan plankton (misalnya : ikan) yang diikuti pula dengan penurunan populasi burung pemakan ikan. Menurunnya populasi burung akan mengakibatkan guano (penghasil fosfat) berkurang sehingga akan terjadi penurunan hasil perikanan. Selain itu, buangan/tumpahan minyak yang menyebar dengan cepat ke wilayah laut yang lebih sempit akan menyebabkan rusaknya ekosistem hutan mangrove, rusaknya tempat-tempat pemijahan (Spawning  ground) sehingga mengakibatkan terjadinya abrasi dan intrusi air laut (Siahainenia, 2001).
Limbah industri lainnya yang umumnya terbuang ke badan sungai dan dialirkan ke laut atau yang langsung terbuang ke laut akan terakumulasi dalam jumlah tertentu yang melebihi kapasitas daya asimilatif perairan.  Bahan pencemar ini  akan menjadi sludge yang menimbulkan bau busuk. Kandungan kimia sludge dapat menurunkan DO serta meningkatkan COD dan BOD. Disamping itu sludge mengeluarkan pula bahan beracun berbahaya seperti sulfida, fenol, Cr (Heksavalen), Pb(Timbal), dan Cd (Cadmium) yang dapat terakumulasi dalam organisme perairan tertentu dan secara tidak langsung merupakan ancaman bagi kehidupan manusia (Suratmo, 1990). 
sumber :
Attamimi, F., 1992.  Penentuan Dampak Biologis Limbah Industri pada Sungai Tallo.  Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
Birowo, S., (1991).  Pengantar Oseanografi.  Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teknik Pemantauannya.  LIPI, Jakarta.

Bishop, J. M., 1984.  Apllied Oceanography.  John Wiley & Sons, Inc.. USA.

Dahuri, R., dkk., 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradya Paramita, Jakarta.

Freedman, B., 1989.  Oil Pollution.  Environmental Ecology the Impact of  Pollution and Other stresses on Ecosystem Structure Function.  Academic Press, Inc. USA. 

GESAMP, 1978.  Report and Studies.  Joint Group of Experts on the Scientific Aspec of Marine Pollution. IMCO/I-AO/UNESCO-WHO/IAEA/UN/UNDP/10.  

Jaringan Advokasi Tambang, 2004.  Gali berita : pantai balikpapan tercemar, siapa bertanggungjawab? http://www.jatam.org, (15 Januari 2005).

Kristanto, S.W., 1995.  Toxicity of the Water – Soluble Fraction of Crude Oil and Partially Combusted Crude Oil to Inland Silverside.  Master Thesis.  Department Fisheries and Wildlife,  Oregon State University.  Corvallis, Oregon, USA.

Nontji, A., 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta

Noor and Mille, G., 1987.  Some Analitycal Aspec of National Hydrocarbon in Marine Sediment.  Makalah Sub regional UNESCO, Surabaya.

Pagoray, H., 2003.  Lingkungan  Pesisir Dan Masalahnya Sebagai  Daerah Aliran Buangan Limbah.  http://www.yahoo.com, (15 Januari 2005).

Proyek Pesisir Kalimantan Timur, 2002.  Rencana Strategis Pengelolaan Terpadu Teluk Balikpapan. Balikpapan.

Rahim S.W., 1998.  Kajian Distribusi Cemaran Minyak di Sekitar Pelabuhan Pertamina Ujung Pandang.  Skripsi Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.

Romimohtarto, 1991.  Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teknik Pemantauannya.  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.    

Saparinto, C., 2002.  Rabuk Kimia Atasi Cemaran Minyak di Laut. http://www.suaramerdeka.com,  (15 januari 2005).
  
Siahainenia, L., 2001.  Pencemaran Laut, Dampak dan Penanggulangannya. http://www.yahoo.com, (15 Januari 2005)    

Sloan, N. A., 1993.  Effect of Oil on Marine Resources :  Worldwide Literature Review Relevent to Indonesia.  Environmental Management Development in Indonesia Project (EMDI).  EMDI Report, 32.  Jakarta dan Halifax Dallhouse University.  

Supriharyono, M. S., 2000.  Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Tropis.  PT.  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Suratmo, F.G. 1990. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Tinsley, I. J., 1979.  Chemical Concepts in Pollutant Behavior.  John Wiley & Sons, Inc.. USA.

Triatmodjo, 1999.  Teknik Pantai.  Beta Offset, Yogyakarta.

Uktolseya, H., 1991.  Beberapa Aspek Fisika Laut dalam Pencemaran.  Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teknik Pemantauannya. LIPI, Jakarta.

Vin, 2002.  Hati-hati Membersihkan Laut akibat Tercemar Minyak Tumpah.  http://www.kompas.com, (15 Januari 2005).

Wahjudi dan J. B., 1976.  Pencemaran di Daerah Pantai Indonesia, Permasalahan, Penanggulangan, dan Pengaturannya. Lembaran Publikasi LEMIGAS No. 2.

Wardhana, W. A., 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset, Yogyakarta.

Widdow, J., T. Bakke, B.L. Bayne, P. Dosikin, D.R. Livinsstone, D. M. Lowo, M.N. Moore, S.V. Evans and S.L. Moore, 1982.  Response of Mytilus edulis on Exposure to the Water – Accomodated Fraction of North Sea Oil.  Marine Biology 67 : 15 – 32.

Yuniarti E., 2003.  Pola Penyebaran Logam Berat Timbal (Pb) di Perairan Teluk Balikpapan.  Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.













































0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lama ►
 

New Tutorial

Follow Us With Facebook